Berdasarkan data dari Kepolisian Republik Indonesia, sepanjang tahun 2013 ada 171 kasus cyber crime dengan 111 tersangka terjadi di Indonesia. Meski tidak ada data pastinya, namun di Indonesia salah satu penyumbang kasus cyber crime terbesar adalah kejahatan dalam dunia perbankan. Bahkan, dalam suatu diskusi bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengenai kejahatan perbankan berbasis teknologi diungkap bahwa cyber crime memang menimpa beberapa bank di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena dua hal, bisa dari sistem keamanan perbankan tersebut yang kurang canggih atau justru dari nasabah/pemilik rekening yang belum memahami bagaimana cara yang paling aman bertransaksi online melalui internet.

Salah satu kasus cyber crime perbankan yang sedang marak terjadi dikenal dengan istilah Phishing. Phishing adalah suatu modus kejahatan di mana si pelaku memancing nasabah (biasanya yang sering melakukan transaksi melalui internet banking) untuk memberikan informasi data diri (Username dan Password) di sebuah website atau situs yang dibuat sangat mirip dengan website asli banknya. Tujuannya sudah pasti untuk membobol rekening nasabah pada saat nasabah lengah setelah memberikan identitas perbankannya.

Masih banyak kasus kejahatan perbankan yang terjadi di Indonesia dengan modus yang tentu saja semakin hari semakin canggih. Seperti kasus kejahatan perbankan dengan cara Skimming, dimana  si pelaku meletakkan sebuah alat tambahan di mulut ATM, yang berfungsi mengcopy data-data milik nasabah yang melakukan transaksi di mesin ATM tersebut. Data yang telah ter-copy tersebut dibuatkan kartu baru yang digunakan untuk membobol rekening nasabah.

Selain kedua modus tersebut, masih banyak modus lain yang kerap dilakukan pelaku kejahatan perbankan, diantaranya seperti Carding (mencuri data nasabah kartu kredit), Hacking/cracking (membobol rekening nasabah dengan menghack akun nasabah), Malware/cyber sabotage (kejahatan perbankan dengan membobol atau merusak sofware atau sistem operasi yang bertujuan mencuri data perbankan pemilik komputer tersebut). Jika dirinci lebih jauh, masih banyak kejahatan perbankan lainnya dengan berbagai modus yang rasanya semakin hari semakin canggih.

Aman Bertransaksi Secara Online

Untuk mengantisipasi modus kejahatan perbankan yang kian hari semakin memprihatinkan, beberapa bank di Indonesia telah menerapkan keamanan berlapis  untuk sistem perbankannya, terutama untuk transaksi internet banking. Bahkan pengamanan berganda dengan cara mengirimkan SMS secara langsung kepada nasabah setiap kali terjadi transaksi secara online juga dilakukan untuk mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan perbankan. Namun di atas semua itu, nasabah atau masyarakat juga harus waspada dan berusaha untuk menjaga dengan baik semua hal yang berhubungan dengan informasi data perbankan miliknya. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu agar aman bertransaksi secara online.

Masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk mengamankan transaksi perbankan yang dilakukan secara online. Tapi pastikan untuk segera melaporkan kepada pihak bank apabila ada tanda-tanda yang mencurigakan pada lalu lintas perbankan Anda, karena dengan cara inilah maka Anda dan nasabah lainnya bisa terhindar dari maraknya aksi cyber crime dalam dunia perbankan Indonesia. Bahkan, pihak  OJK (Otoritas Jasa Keuangan) memberikan akses langsung melalui call service bagi masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan atau laporan berkaitan dengan perbankan di nomor telepon (021) 500655.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Bagikan info ini: